November 21, 2019

BAB disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun

BAB
1

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1.1  Latar
Belakang

 

Saat ini, dunia sedang di
dera dengan masalah yang lazim kita dengar yaitu kemiskinan dalam berbagai bentuk
dan jumlah yang berbeda-beda. Kemiskinan merupakan masalah umum dan telah terjadi
di seluruh dunia. Kemajuan teknologi yang semakin canggih juga sangat berdampak
pada meningkatnya jumlah pengangguran.

 

Berbagai pemerintah, Lembaga-lembaga
sosial, dan juga individu-individu sudah turun tangan untuk meringankan masalah
ini , berbagai upaya dan pertolongan telah di kerahkan. Program-program
pelayanan sosial, kesehatan dan pendidikan untuk membantu masalah ini juga
sudah di keluarkan, namun masalah kemiskinan tetap saja malah  jumlah orang miskin di dunia semakin
bertambah meskipun pemerintah dan Lembaga-lembaga International telah turut
campur tangan dalam menyelesaikan masalah kemiskinan ini

 

Sebagai masalah yang sudah
menjadi isu global yang umumnya atau lebih banyak terjadi di negara berkembang
sudah sepatutnya kita menjadikan isu ini sebagai prioritas kita semua, wacana
pemberantasan kemiskinan haruslah menjadi agenda wajib bagi pemerintah dan
pemimpin negara. Peran pekerja sosial sangat diperlukan pada permasalahan ini,
terlebih dalam memberikan masukan dan melakukan perencanaan strategis tentang
apa yang akan menajdi kebijakan dari pemerintah.  

 

 

1.2 Rumusan Masalah

 

Dalam makalah ini penulis
akan membahas tentang:

1. Apa pengertian
kemiskinan?

2. Bagaimana cara mengukur
kemiskinan?

3. Apa macam-macam
kemiskinan?

4. Apa penyebab kemiskinan?

5. Apa masalah kemiskinan dunia?

6. Apa respon Nasional dan
Internasional terhadap kemiskinan?

7. Apa saja strategi
mengatasi kemiskinan di dunia?

8. Apa itu kemiskinan dalam
perspektif agama?

 

 

 

 

1.3 Tujuan Penulisan

 

Tujuan makalah ini adalah:

1. Mengetahui pengertian
kemiskinan

2. Mengetahui cara mengukur
kemiskinan

3. Mengetahui macam-macam
kemiskinan

4. Mengetahui penyebab
kemiskinan

5. Mengetahui masalah
kemiskinan dunia

6. Mengetahui respon
nasional dan internasional terhadap kemiskinan

7. Mengetahui strategi
mengatasi kemiskinan di dunia  

8. Mengetahui kemiskinan
dalam perpektif agama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Kemiskinan

 

Kemiskinan adalah keadaan
dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan,
pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat
disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara
yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi
memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan dipahami dalam
berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

Gambaran kekurangan materi,
yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan,
dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai
situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan
sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan
untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan
informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena
hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi
pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya
penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini
sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh
dunia.

 

 

 

 

 

 

2.2 Mengukur Kemiskinan

 

Kemiskinan bisa
dikelompokan dalam dua kategori, yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan
relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten,
tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat/negara. Sebuah contoh dari pengukuran
absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup
menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk
laki laki dewasa).

 

Bank Dunia mendefinisikan
Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan
menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan
pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7
miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari.” Proporsi penduduk
negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada
1990 menjadi 21% pada 2001.Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari
penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah
berkurang separuh. Tetapi, nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun
waktu tersebut.

 

Meskipun kemiskinan yang
paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran
kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan
kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan
ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif
masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini
keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini,
negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3. Macam-macam Kemiskinan

 

Kemiskinan adalah suatu
kondisi dimana semuanya serba kekurangan, misalnya saja miskin jasmani, berarti
kekurangan makanan, minuman dan tempat berlindung. Adapun macam-macam
kemiskinan yaitu sebagai berikut:

Kemiskinan Mutlak : Kemiskinan
yang disebabkan karena tingkat pendapatan yang tidak dapat mencukupi
kebutuhan hidup
Kemiskinan  Relatif :
Kemiskinan yang lebih banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan sekitarnya
Kemiskinan Struktural :
Kemiskinan yang disebabkan karena ketimpangan dalam struktur ekonomi suatu
negara atau struktur pendistribusian fasilitas yang membuat suatu daerah
penduduknya menjadi miskin.
Kemiskinan Sosial Budaya :
Kemiskinan yang dikaitkan dengan nilai-nilai sosial budaya masyarakat,
atau lebih singkatnya kondisi sosial budaya yang memaksa masyarakat di
daerah itu menjadi miskin.

 

2.4  Penyebab
Kemiskinan

 

Penyebab kemiskinan sangat
kompleks, sehingga perspektif dalam melihat berdasarkan persoalan real dalam
masyarakat tersebut. Persoalan real dalam masyarakat biasanya karena adanya
kecacatan individual dalam bentuk kondisi dari kelemahan biologis, psikologis,
maupun kultural sehingga dapat menghalanginya untuk memperoleh peruntungan
untuk dapat memajukan hidupnya. Kelompok yang masuk dalam golongan yang tidak
beruntung, yaitu kemiskinan fisik yang lemah, kerentaan, keterisolasian dan
ketidakberdayaan.

 

 

 

 

 

Pada umumnya di Negara
Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:

 

1. Kurangnya lapangan
pekerjaan yang tersedia di Indonesia

Seperti kita ketahui
lapangan pekerjaan yang terdapat di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah
penduduk yang ada dimana lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk di Indonesia yang tidak
memperoleh penghasilan itu menyebabkan kemiskinan di Indonesia.

 

2.  Tidak meratanya
pendapatan penduduk Indonesia

Pendapatan penduduk yang
didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relative tidak dapat
memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia
mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini yang diusebut tidak meratanya
pendapatan penduduk di Indonesia.

 

3.  Tingkat pendidikan
masyarakat yang rendah

Banyak masyarakat Indonesia
yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh perusahaan yang
mempekerjakan tenaga kerja. Dan pada umumya untuk memperoleh pendapatan yang
tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi pula atau minimal mempunyai
memiliki ketrampilan yang memadai dehingga dapat memperoleh pendapatan yang
dapat memenuhi kebutuhan dehari-hari sehingga kemakmuran penduduk dapat
terlaksana dengan baik dan kemiskinan dpat di tanggulangi.

 

4.  Merosotnya standar
perkembangan pendapatan per-kapita secara global

Yang penting digarisbawahi
di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan
produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur
meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya,
seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun
beriringan.

Berikut beberapa faktor
yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:

a) Naiknya standar
perkembangan suatu daerah.

b) Politik ekonomi yang
tidak sehat.

c) Faktor-faktor luar
negeri, diantaranya: a). Rusaknya syarat-syarat perdagangan b). Beban hutang
c). Kurangnya bantuan luar negeri, dan Perang

 

5.  Menurunnya etos
kerja dan produktivitas masyarakat

Terlihat jelas faktor ini
sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk
menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan
SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa
dipertanggungjawabkan dengan maksimal.

 

6. Biaya kehidupan yang
tinggi

Melonjak tingginya biaya
kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan
pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis
dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga
kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran.

 

7.  Pembagian subsidi
in come pemerintah yang kurang merata

Hal ini selain menyulitkan
akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin,
juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi
lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.

 

8.  Kurangnya
perhatian dari pemerintah

Masalah kemiskinan bisa
dibilang menjadi maslah Negara yang semakin berkembang setiap tahunnya dan
pemerintah sampai sekarang belum mampu mengatasi masalah tersebut. Kureangnya
perhatian pemerintah akan maslah ini mungkin menjadi salah satu penyebabnya.

Kemiskinan banyak
dihubungkan dengan:

penyebab individual, atau
patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan,
atau kemampuan dari si miskin;
penyebab keluarga, yang
menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
penyebab sub-budaya
(subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari,
dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
penyebab agensi, yang melihat
kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang,
pemerintah, dan ekonomi;
penyebab struktural, yang
memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.

 

Meskipun diterima luas
bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun
di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki
jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang
tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas
garis kemiskinan.

 

2.5 Masalah Kemiskinan
Dunia

 

Adapun beberapa masalah
kemiskinan yang ada di seluruh dunia adalah sebagai berikut:

Rusaknya sistem ekonomi
kapitalis yang diterapkan negara- negara di seluruh dunia saat ini. Sistem
ekonomi kapitalis merupakan sistem yang mengandung kerusakan. Tabiatnya
mengantarkan kepada kebebasan dan penjajahan, serta terakumulasinya
kekayaan di tangan sebagian kecil orang atau perusahaan raksasa.
Rusaknya sistem dan
undang-undang yang diterapkan di dunia, dan tidak adanya penguasaan
terhadap fakta secara sempurna. Sistem tersebut tidak mampu menyelesaikan
masalah, karena dalam memberikan solusi-solusi bertumpu pada asas-asas
yang salah.
Kerusakaan finansial dan
administratif serta buruknya pengelolaan perusahaan-perusahaan oleh para
pelaksana. Padahal mereka memperoleh gaji, bonus, dan kompensasi sangat
tinggi. Selain itu mereka juga menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya
kepada lembaga-lembaga yang beraktivitas di dalamnya dan yang mengelola
administrasinya.
Burukya distribusi kekayaan,
bahkan tidak ada sistem pendistribusian kekayaan. Juga anggapan bahwa
masalahnya adalah masalah kelangkaan relatif yang solusinya dengan
menambah produksi. Sementara sekitar lima milyar orang penduduk dunia
hidup dengan kurang dari dua dolar per hari, sebagaimana sekitar satu
setengah milyar orang hidup dengan kurang dari satu dolar per hari per
orang. Juga sebagaimana 1 % penduduk Amerika Serikat memiliki 50 % dari
total kekayaan, sementara 80 % penduduk Amerika memiliki kurang dari 8 %
total kekayaan.
Buruk dan rusaknya administrasi
yang dikendalikan oleh nepotisme dan bagi-bagi kekayaan, dan berbagai
kerusakan administratif di banyak negara.
Pengaruh dan dominasi
perusahaan-perusahaan besar terhadap perekonomian global. Contohnya, 80 %
komite yang membuat keputusan di Amerika Serikat ditentukan oleh pemilik
kepentingan-kepentingan dan kekayaan-kekayaan yang besar.
Dominasi para penguasa dan para
pengusaha terhadap sumber daya negeri.
Peran serta organisasi
internasional seperti Bank Dunia dan IMF dalam menghancurkan kekayaan
negara-negara debitor (pengutang) melalui solusi keji yang diberikan
kepada negara-negara tersebut yang bertujuan memperlemah dan
memelaratkannya serta mempertahankannya terus membutuhkan bantuan dan
utang.

2.6 Respon Nasional Dan
Internasional Terhadap Kemiskinan

 

Kemiskinan merupakan
masalahyang sangat kompleks, yang memerlukan kerjasama dari berbagai pihak
dalam mengatasinya. Pengentasan  rakyat dari kemiskinan merupakan suatu
pekerjaan rumah bagi masing-masing negara yang menginginkan rakyatnya makmur
dan sejahtera.

 

Sebagai respon dari dunia
internasional terhadap kemiskinan adalah adanya upaya kepedulian yang dilakukan
oleh lembaga internasional yang berupaya mengentaskan kemiskinan dengan
programnya masing-masing. Seperti world bank dengan IMF, ILO, UNICEF, WTO dan
lain-lain. Dengan adanya organisasi internasional ini step by step kemiskinan
dapat  terentaskan pada masyarakat suatu negara namun dengan syarat
organisasi itu semua bekerjasama dengan baik dalam hal menurunkan angka
kemiskinan. Pada sekitar tahun 1997, ketika WorldBank berada dibawah pimpinan
Wolfenson, terdapat beberapa upaya untuk meningkatkan efektifitas upaya
pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan lain-lain.

 

Respon kemiskinan yang
terjadi di Indonesia misalnya ketika politik dan keamanan yang sudah tidak
stabil ditambah dengan terjadinya krisis ketika tahun 1997-1998, yang mana pertumbuhan
ekonomi mencapai 13 persen, inflasi tercatat sangat tinggi sampai 77 persen,
PHK dimana-mana, dan melonjaknya angka kemiskinan. Dan kejadian di Indonesia
ini menyebabkan repon yang sangat kacau, yang mana ketika itu instabilitas
politik yang sudah tidak stabil lagi yang ditandai dengan gelombang demonstasi,
hura-hura, kerusuhan, dan mengakibatkan kepada kekerasan.

 

Dalam hal kesehatan respon
kemiskinan menjadi hal yang buruk, yang mana keterbatasan akses dan rendahnya
mutu layanan kesahatan disebabkan oleh kesulitan mendapatkan layanan kesehatan
dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap
hidup sehat, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. Di sisi lain pun,
utilisasi (penggunaan) rumah sakit masih didominasi oleh golongan mampu,
sedangkan masyarakat miskin cenderung memanfaatkan puskesmas.  

 

2.7. Strategi Mengatasi
Kemiskinan di Dunia  

 

Setelah mempelajari
sekelompok negara–termasuk Brasil, Kamboja, Mali, Peru dan Tanzania–yang
berhasil mengurangi ketimpangan secara signifikan selama beberapa tahun
terakhir, dan mempelajari berbagai bukti yang tersedia, peneliti Bank Dunia
mengindentifikasi enam strategi yang berpeluang memberi dampak. Strategi
tersebut mengungkap kebijakan yang terbukti telah menambah penghasilan
masyarakat miskin, memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan penting, dan
memperkuat prospek pembangunan jangka panjang tanpa merusak pertumbuhan.
Kebijakan ini berkinerja baik ketika didampingi oleh pertumbuhan yang kuat,
manajemen makro ekonomi yang baik, dan pasar tenaga kerja yang dapat
menciptakan lapangan kerja dan memungkinkan masyarakat termiskin untuk
memanfaatkan peluang tersebut.

 

1.  Pengembangan anak
usia dini dan gizi

Langkah-langkah ini
membantu pertumbuhan anak di masa 1.000 hari pertama mereka. Kekurangan gizi
dan kekurangan pertumbuhan kognitif selama periode ini dapat menyebabkan
penundaan pendidikan dan mengurangi prestasi mereka di kemudian hari.

 

2.  Perlindungan
kesehatan untuk semua

Memberi cakupan kepada
masyarakat tidak mampu untuk mendapat layanan kesehatan yang terjangkau dan
tepat waktu, dan pada saat yang sama meningkatkan kapasitas masyarakat untuk
belajar, bekerja dan melakukan kemajuan.

 

3.  Akses pendidikan
bermutu untuk semua

Jumlah pelajar di seluruh
dunia telah meningkat dan pusat perhatian harus bergeser dari sekadar mengirim
anak-anak ke sekolah menjadi memberikan pendidikan bermutu untuk setiap anak di
manapun mereka berada. Pendidikan untuk semua anak harus mengedepankan proses
belajar, pengetahuan dan pengembangan keterampilan serta kualitas guru.

 

4.  Bantuan tunai
kepada keluarga miskin

Program ini memberi
penghasilan pokok kepada keluarga miskin, memungkinkan mereka untuk menjaga
anak-anak mereka tetap sekolah dan memungkinkan kaum ibu untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dasar. Uang tersebut juga dapat membantu keluarga miskin membeli
berbagai keperluan seperti bibit, pupuk, atau ternak, dan membantu mereka
menghadapi kekeringan, banjir, bencana pandemik, krisis ekonomi atau guncangan
yang lain. Bantuan tunai telah terbukti mengurangi kemiskinan dan menciptakan
kesempatan bagi orang tua maupun anak-anak. 

 

5.  Infrastruktur
pedesaan – terutama jalan dan penyediaan listrik

Pembangunan jalan pedesaan
dapat mengurangi biaya transportasi, menghubungkan petani desa ke pasar untuk
menjual barang-barang mereka, serta memungkinkan pekerja bergerak lebih bebas,
dan memperbaiki akses ke pendidikan dan layanan kesehatan. Misalnya, penyediaan
listrik bagi masyarakat desa di Guatemala dan Afrika Selatan telah membantu
peningkatan tenaga kerja kaum perempuan. Akses listrik juga membuat usaha rumah
skala kecil menjadi lebih layak dan produktif, yang sangat diperlukan bagi
masyarakat miskin di desa.

 

 

 

6.  Sistem perpajakan
yang progresif

Sistem perpajakan yang adil
dan progresif dapat membiayai kebijakan agar program pemerintah yang diperlukan
berjalan dengan baik, mengalokasikan sumber daya yang ada ke masyarakat
termiskin. Sistem pajak dapat dirancang agar mengurangi ketimpangan dan pada
saat yang sama menjaga efisiensi anggaran.

 

 

2.8 Kemiskinan Dalam
Perspektif Agama

 

Alquran
menggambarkan kemiskinan dengan 10 kosakata yang berbeda, yaitu al-maskanat
(kemiskinan), al-faqr (kefakiran), al-‘ailat (mengalami kekurangan), al-ba’sa
(kesulitan hidup), al-imlaq (kekurangan harta), al-sail (peminta), al-mahrum
(tidak berdaya), al-qani (kekurangan dan diam), al-mu’tarr (yang perlu dibantu)
dan al-dha’if (lemah). Kesepuluh kosakata di atas menyandarkan pada satu
arti/makna yaitu kemiskinan dan penanggulangannya. Islam menyadari bahwa dalam
kehidupan masyarakat akan selalu ada orang kaya dan orang miskin (QS An-Nisa/4:
135). Sungguh, hal itu memang sejalan dengan sunatullah (baca: hukum alam)
sendiri. Hukum kaya dan miskin sesungguhnya adalah hukum universal yang berlaku
bagi semua manusia, apa pun keyakinannya. Karena itu tak ubahnya seperti
kondisi sakit, sehat, marah, sabar, pun sama dengan masalah spirit, semangat
hidup, disiplin, etos kerja, rendah dan mentalitas. 

 

Kemiskinan,
menurut Islam, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya karena
keterbatasan untuk berusaha (Q.S. Al-Baqarah/2: 273), penindasan (QS
Al-Hasyr/59: 8), cobaan Tuhan (QS Al-An’am/6: 42), dan pelanggaran terhadap
hukum-hukum Tuhan (QS Al-Baqarah/2: 61).

 

Untuk itu Islam pun memberikan sumbangsih solusi penanggulangan
kemiskinan dengan dua model:(1) wajib dilakukan dan (2) anjuran. Adapun yang
mesti dilakukan adalah zakat (QS At-Taubah/9: 103), infak wajib yang sifatnya
insidental (QS Al-Baqarah/2: 177), menolong orang miskin sebagai ganti
kewajiban keagamaan, misalnya membayar fidyah (QS Al-Baqarah/2: 184), dan
menolong orang miskin sebagai sanksi terhadap pelanggaran hukum agama (misalnya
membayar kafarat dengan memberi makan orang miskin) (QS Al-Maidah/5: 95).
Sedang yang bersifat anjuran untuk dilakukan adalah sedekah, infak, hadiah, dan
lain-lainnya. Tentu saja semua hal di atas dilakukan bagi orang yang mampu
secara finansial. Namun, bagi yang tidak mampu pun dalam hal itu diwajibkan
juga, yaitu dengan memberikan nasihat, spirit, dan motivasi kepada kalangan
rakyat jelata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB
III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

 

Masalah dasar pengentasan
kemiskinan bermula dari sikap pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Kemiskinan
adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian bahwa semakin
meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan pun akan
semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari
pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini
adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Ketika
terjalin kerja sama yang romantis baik dari pemerintah, nonpemerintah dan semua
lini masyarakat. Dengan digalakkannya hal ini, kemiskinan akan mencapai hasil
yang seminimal mungkin.

 

3.2 Saran

Dalam menghadapi kemiskinan
di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif, inovatif, dan
eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman
globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam
pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang standarnya adalah
standar global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR
PUSTAKA

 

Suharto, Eko Ph.D.(2009), ”
Kemiskinan & Perlindungan Sosial di Indonesia” Bandung.

Sukirno Sadono (1978), ”
Ekonomi Pembangunan”  Depok, Lembaga
penerbit fakultas ekonomi universitas Indonesia.

Yusuf
al-Qardhawy(1996), “Konsep Islam dalam Mengentaskan
kemiskinan” Surabaya : Bina Islam

https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan

https://www.katapena.info/2017/03/makalah-masalah-kemiskinan-dunia.html

https://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/28/masalah-kemiskinan-di-dunia-dan-peran-krisis-finansial-global-dalam-memperparah-masalah/

http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2016/10/02/tackling-inequality-vital-to-end-extreme-poverty-by-2030

 

x

Hi!
I'm Allison!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out